Kamis, 26 September 2013

Surat Cinta Dari Para Pejuang

“Semangat, ceria, asik, membaur, komitmen, dan keren lah”
“Banyak amanah, sulit untuk memegang OC, jarang konfirmasi”
“Supel, periang, kerjanya sesuai deadline, ngga nunda-nunda pekerjaan, peduli sama yang lain”
“Atur jadwal, agenda, pikirkan kembali amanahnya, sering-sering ketemu OC, dan sering konfirmasi”
“Asik banget, gampang dan cepat bergaul, ramah, supel”
“Gatau apa kekurangan adil, bukannya ga peduli. Tapi kadang kalo kita ngeliat kekurangan suka jadi ke-judge. Apasih? Pokoknya tetap jadi adil yang nyenengin, jangan lupain anak-anak MB ya”
“Ceria, optimis, kreatif, bercandaan terus, sembunyi-sembuyi sesuatu
“Penekanan bercanda, bisa jadi jika bercanda ada yang sakit hati, jangan bisik-bisik depan orang, timbul curiga”
“Semangat, paling ga pernah galau kayaknya”
“Kurang manajemen waktu soalnya ada beberapa agenda yang terbengkalai”
“Atur waktu Dil pake skala prioritas”
“Periang, loyal, kerja all out
“Terlalu tomboy, lebih feminin perempuan kurang baik kalau tomboy”
“Baik, suka mencairkan suasana”
“Selalu ceria, kalo ada masalah bilang aja. Jangan dipendam”
“Orangnya seru, mudah bergaul”
“Terlalu fokus di UKM lain”
“Fokusin aja di MB”

Aku ga akan menganalisa kesalahan-kesalahan ejaan dalam deretan kalimat langsung diatas karena terlalu banyak ahahaha. Dan aku ga ngerti kenapa ada yang bilang ‘sembunyi-sembunyi sesuatu’, emang sih aku sering nyembunyiin hape orang, tapi ‘sesuatu’ disana itu maksudnya apa? jadi merasa tertuduh gini.

Tapi terlepas dari semua itu, yang lebih penting adalah isinya. Kalimat-kalimat diatas disusun saat upgrading panitia MB di Arboretum pada tanggal 25 September 2013. Kalimat-kalimat diatas ditulis diatas kertas yang dikelilingin dari panitia satu ke panitia lain. Kalimat-kalimat diatas adalah penilaian tentang diriku dari orang-orang yang merelakan waktunya untuk berjihad di MB (MIPA Bersatu) 2013 yang merupakan rangkaian ospek tingkat fakultas MIPA di Unpad. Kalimat-kalimat diatas ditulis para panitia dengan niat agar aku mau berubah lebih baik lagi.

Iya. Kepanitiaan aku di MB bisa dibilang sebentar lagi akan selesai. Kita akan segera menyusun rancangan untuk MB part 2 yang insya Allah dilaksanakan di bulan Oktober. Nggak kerasa. Sejak kepanitiaan terbentuk bulan April, diteruskan dengan rapat maraton selama libur ramadhan, dan sekarang udah mulai nyusun laporan pertanggung jawaban MB, aku ternyata sedang merangkai kenangan-kenangan menakjubkan di masa-masa kuliah.  

MB ini pada mulanya aku masuki sebagai pelampiasan kegilaan aku pada kepanitiaan dan organisasi di semester 2 kemarin. Aku masuki setengah hati, aku jalani tiada hati. Sempet nyesel juga bahkan. Karena aku menjadi panitia yang mengurus bagian desain, sedangkan aku sangat membenci spesies yang bernama Photoshop dan CorelDraw.

Tapi waktu berjalan. Dan seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh diantara gelap gulitanya rapat MB. Hehehe

Aku bersyukur karena berhasil masuk ke saat-saat dimana aku mau meluruskan niat. Aku niatkan bahwa aku masuk kepanitiaan MB ini, adalah untuk membantu adik-adik Mahasiswa Baru FMIPA Unpad 2013, untuk mencari ilmu organisasi, dan untuk memperoleh keluarga baru.

Keluarga?

“Katanya keluarga… tapi sodaranya ga mau dibantu. Push up kalian!” *abaikan saja*

Entah keluarga atau bukan, entah teman atau bukan, entah apapun kata-kata yang mewakili untuk orang-orang yang sering bersama kita untuk memperoleh tujuan yang sama, kepanitiaan di MB ini mampu memaksaku untuk mau melakukan hal-hal yang aku pikir tak akan pernah mau aku lakukan. Seperti seorang ibu yang memaksa anaknya yang lumpuh untuk berusaha berjalan, para pejuang-pejuang MB memaksaku yang buta-Photoshop ini untuk berusaha bisa memainkan tools di Photoshop. 

Membuat desain di CorelDraw, bikin film, dan perdesainan lainnya adalah unwanted to do-list yang aku camkan dalam hati. Tapi didorong oleh niat yang lurus, dan karena disemangati oleh mereka-mereka yang juga berjuang di MB, ah rasanya sekarang aku bisa mencintai apa-apa yang aku kerjakan di MB.

Kang Ogi yang alay, Fadlan yang boyband, Kang Yordan yang sok manis, Kang Adit yang sok kalem, Zetil yang pendiam, Teh Syifa yang pelit, Maryam yang bawel, Ryan yang jago ngeles, Racka yang gembul, Kang Rifat yang playboy, Teh Linda yang loyo, Teh Umi yang hiperaktif, Nisa yang centil, Destri yang macho, maaf untuk penilaianku yang seperti ini terhadap kalian, karena toh itu yang membuat aku nyaman untuk mencintai kalian. *haciyeeeee

Iya, mereka adalah orang-orang yang bagai saudara kepada saudaranya lain, seringkali membantuku untuk berubah menjadi … lebih mampu mungkin?

Iya, lebih mampu menerima apa yang diamanahkan kepadaku. Lebih mampu mengerjakan apa yang tidak mau aku kerjakan. Lebih mau untuk memahami pendapat orang lain, dan paling penting adalah aku merasa lebih mampu untuk belajar menjadi lebih dari aku yang sekarang.

Jarang aku menemukan kepanitiaan dimana aku bisa nyaman berada di dalamnya. Dan ketika kepanitiaan ini berakhir, aku berharap agar kenyamanan itu gak akan pernah luntur. Hanya Allah yang tahu bagaimana sesungguhnya aku menganggap mereka sebagai apa. Tapi orang-orang ini yang telah membantuku untuk tahu harus melakukan apa. Maka tiada doaku untuk mereka kecuali agar mereka selalu diberi kesehatan, kekuatan dan keikhlasan dan semangat untuk menjinjing amanah luar biasa ini.  

MB mungkin akan segera berakhir, tapi semoga ukhuwah diantara kita tiada pernah akhir. Semangat guys! :)  




Untuk seorang Teman

Aku punya seorang teman. Cowo. Tinggi. Gede. Mancung. Juga. (-_- ini apaan sih deskripsi sepotong-potong gini)

Kita sebut saja namanya Sam. Sam ini aku kenal dari sebuah UKM di kampus. Kita sama-sama anggota di UKM tersebut. Yah seperti kebanyakan orang yang mengenal satu sama lain karena berada dalam satu organisasi yang sama, aku dan Sam pada awalnya sebatas kenal doang, bahkan sebatas cukup tau ajah.  Selain karena kita berbeda program studi di kampus, dia juga nampak seperti orang yang sulit didekati.

Awalnya seperti itu.

Terus endingnya?

Happy ending ever after kaka …… *minta ditabok

*Prat pret dezigh*

Iya, awalnya seperti itu. 

Sampai kami tiba di masa pengkaderan dari UKM yang kami ikuti. Aku tak pernah menyangka bahwa dengan proses pengkaderan dari UKM tersebut, aku dibawa masuk ke kondisi dimana aku, pada akhirnya, lama-kelamaan, ternyata, membutuhkan dia. Kalo kita ngumpul, dia ga dateng, aku sedih. Kalo kita ngadain acara, dia ga dateng, aku sedih.  Orangnya aku kira cukup tertutup, dan karena itu aku diam.

Sampai pada akhirnya, aku mencapai titik kesabaranku, aku maksa dia buat cerita. Dan ternyata… dia adalah salah satu fans fanatik Zaskia Gotik!
*idih

Nggak. Dia cerita, kalo dia itu orangnya susah buat punya teman. Since ago, until now. His story is hard to be analyzed. *asik dah gaya beuuddh hahaha

Ceritanya itu bener-bener bikin aku ga ngerti dibandingin ngerjain UTS listrik magnet yang dari 7 soal setidaknya masih bisa aku kerjain dua soal sampai UTS berakhir *curhat*.

Aku ga ngerti. Pertama, dia bilang ga pernah punya teman. Lalu aku ini dianggap apa, teman-temannya di kuliahan dia anggap apa? Apa kita cuma dianggap pesut putih yang selalu ngeberisikin telinga dia? *kenapa analoginya pesut putih -_- ?* Aku kalau lihat profil facebook dia, foto profilnya seringkali lagi ga sendirian alias dia emang difoto sama orang lain. Lah orang lain yang di foto profil dia itu emang bukan temannya? Atau itu mas-mas tukang cendol yang dibayar buat pose telunjuk di bibir manyun sama dia? Demi alasan apapun, itu ga mungkin. Orang itu pasti temannya, mau beneran tukang cendol atau bukan, kalau Sam udah masang foto profilnya sama orang itu, berarti Sam pengen orang sedunia tahu kalau dia pernah foto dengan orang itu. Artinya, orang itu temannya Sam kan?

Kedua, mungkin ini sedikit menghakimi jadi maaf kalau tersinggung. Dia bilang kalau kondisi dia untuk ‘ga punya teman’ udah dari dulu. Berarti dia udah berpengalaman kan untuk masalah hidup solitary begitu. Terus kenapa harus dipermasalahkan? Kasarnya, kalau dia udah sering hidup di zona perang Israel-Palestina, denger bom meledak di kamar dia pun barangkali cuma dia anggap kayak musik pengiring tidur. (bom di kamar? Koit atuh -_-). Kalau dia sering berada di zona friendless kayak gini, wajarnya dia udah biasa dengan kondisi itu, dan ga perlu mempermasalahkan hal itu karena toh buktinya dia sampe sekarang masih bertahan hidup.

Ketiga, yang bikin aku paling bingung – melebihi bingungnya aku ketika melawan kebengisan soal UTS listrik magnet – yaitu karena ke-inersia-an dia di koordinat itu dan ga ada gaya internal dari diri dia sendiri untuk melakukan perpindahan dengan kecepatan tertentu dalam waktu sekian ke koordinat lain. *cih cih cuih hoeekk*
Iya. Dia nampak ga berusaha merubah kondisinya. Entah dia sudah nyaman disana, entah dia emang orangnya begitu. Dan ini yang paling takutkan; entah dia memang sudah PUTUS ASA.

Kalau aku lihat dari ekspresi dia ketika cerita, emang sih mukanya datar-datar aja. Ga datar banget juga sih soalnya dia mancung. Tapi aku bisa merasakan kalo dia butuh teman yang lebih dari sekedar pernah foto bareng di profil facebook. Dia butuh teman yang bisa menemani langkah dia. Dia butuh teman untuk cerita. Dia butuh teman yang mau menerima dia apa adanya.

Aku kembali bercermin pada diriku sendiri. Kalau dipikir-pikir dulu aku emang rada males buat temenan sama dia. Udah mah sering beda pendapat, kerjanya nge-bully aku terus. Pokoknya Sam ini orangnya ngehe banget. Tapi gatau karena proses kaderisasi dari UKM yang cukup rumit, aku secara perlahan masuk ke comfort zone sama dia. Walaupun tiap ketemu di-ngehe-in terus, tapi aku justru itu yang aku rindukan dari dia. Entah apa yang terjadi, tapi sebenarnya dia berhasil untuk membuat seseorang menjadi teman yang menerima dia apa adanya.

Aku memang ga bisa selalu ada di belakang atau depan langkah kaki dia. Aku juga memang ga bisa selalu mendengarkan cerita dia, dan aku kadang menuntut dia untuk menjadi seperti yang aku mau. Tapi aku pengen ngebawa dia untuk keluar dari zona Israel-Palestina-nya. Aku pengen dia pindah ke zona lain, zona dimana dia merasa nyaman untuk mengatakan “Aku punya teman.”

Aku percaya Sam sesungguhnya bisa melakukan itu. Sama percayanya aku ketika masih bertahan hidup saat keluar dari ruang UTS listrik magnet. Sam, dengan kamu percaya, maka keajaiban akan datang. Entah kini, esok atau di kemudian hari. Aku barangkali belum menjadi teman yang baik. Kamu barangkali berusaha lebih baik. Semua akan indah pada waktunya, Sam.


Dari temanmu

Rabu, 28 Agustus 2013

SUAKA SETIA



Kerasnya bebatuan, kerasnya mematahkan
Tulang-tulang remuk, juga rusuk, juga punuk
Wanita ini juga remuk
Mencari adamnya, pemilik dirinya, rusuknya, hidupnya, surga dan dunianya
Dalam sebercak sisa-sisa kemalangan
Sampah dari harapan, amukan-amukan, menjelma sekeji angkara dan kemunafikan
Wanita ini juga terkeruk
Mencari dirinya, dia, dia, dirinya, mencari apa-apa tentangnya
Yang tertatih memandang, tak mampu menatap malam terang
Hanya menjadi seorang tertua, dalam batas penantian
Tiada, sudah tiada, ketidakpastian, dan segala hal kerusakan
Wanita ini juga mencoba
Mencari yang ada, meninggalkan segala sia
Membakar hati, menguatkan jiwa, raga, di dekapan semesta, di pangkuan raya
Segala berdoa, ia tak terlupa

Selasa, 30 Juli 2013

OUTDOOR GEAR #Part 2



Buat yang belum baca bagian pertama-nya, bisa dibaca di

OUTDOOR GEAR #Part 1 :D


Saat kami tiba, di Pengalap sudah ramai oleh PA-PA lain yang mendirikan tenda. Kira-kira ada 3 buah tenda yang sudah didirikan. Kami awalnya mau mengisi salah satu area kosong di lahan luas itu. Tapi Kang Antono nyuruh kita pindah ke lahan sebelah yang ternyata lebih luas dan masih kosong. Maka dengan sukacita kami pindah ke lahan sebelah dan segera bagi job desk. Aku sendiri kebagian masak. Nah disini kembali keliatan kinerja persiapan logistik kita yang amburadul. Aku terus-menerus nanyain logistik ke anak-anak karena kurang tahu keberadaan benda-benda tesebut.

“Wortel dimana woy?” “Di tas Anton”
“Panci dimana?” “Di tas Arli”
“Hei ada yang tahu dimana bumbu sop ?” “Di tas kamu dil” “Oh iya? Kok aku lupa ya?” “zzzz”
“Pisau pisau ?” “Di tas aku dil”
Aksi tanya-jawab yang berlangsung intens ini bikin aku gereget buat nanya,
“Hei aku dimana?”
Kali aja ada yang jawab, “Di hatiku”
Tapi ga jadi ah, hehehehe.

Jadi koki di tengah hutan ? It’s simply hard. Di rumah aja aku jarang masak, lah ini aku harus masak untuk enam orang cowok yang porsi makannya nggak lazim. Sempet depresi juga. Mau curhat ke wortel juga ga mungkin. Untung kang Swach inisiatif bantuin aku masak. Malah dia jadi sejenis ‘cooking guide’ gitu.

“Dil, ini nasinya kurang air.” He said.
“Dil, kalau masak sop tuh jangan langsung semuanya dimasukin. Apa dulu coba?” He asked.
“Hehe, menurut akang mending apa dulu?” I JOKED.
“….” He downed. Hehehe

Sebagai wanita, aku merasa tertohok LAGI oleh kang Swach ini. Kok dia lebih apik dari aku ya? Gara-gara punya pacar kali ya? Makanya dil.. itu cowo yang ngantre jangan diabaikan. Iya ngantre minta nabok. *hahaha miris*

Kang Antono sama Arli duet bikin api. Kayu-kayunya basah karena hujan sore tadi. Duet anggota muda dan anggota penuh ini menghasilkan api yang labil. Mati-hidup-mati-hidup. Berarti Arli harus jadi anggota penuh, kali aja apinya jadi makin labil *loh*. Rivo lagi beres-beres tenda, Hafizh dan Anton lagi nyerut kayu. Aku masak nasi, telor orak-arik dan sop sayur buanyak banget. Aku udah janji ke Anton mau bikinin makan enak. Dan aku emang bikinin sop yang enak banget, meskipun persentase enaknya 50.1 % dipegang kang Swach lah yaa.. hehehee

Pas persiapan camp craft ini, kita kedatangan tamu. PA dari UPI yang baru Attack from the Summit (istilah apa pula ini). Mereka singgah di camp kita sekitar Maghrib dan berniat langsung turun malam itu juga. Gila, keren banget. Batinku. Kayak ga ada capeknya gitu. Meskipun kita kasih mereka suguhan seadanya, Alhamdulillah mereka menikmati sekali nampaknya. J

Selesai semuanya. Makan udah. Api jadi. Dan tenda tinggal dimasuki. Eh DP ngajak curhat.

“Logistik kalian gimana? Masih cukup sampai Senin?” selidik kang Antono. Sejenak hening. Suara binatang malam mulai mewarnai suasana hutan. Angin dingin menusuk tulang.  Kami terhanyut oleh pikiran masing-masing.
“Saya mau jujur kang.” Arli memulai. Semua tegang menunggu apa yang akan Arli katakan.
“Sebenarnya saya ini penyanyi dangdut.” 
GUBRAK. Oke ini bercanda.
“Sebenarnya kita ada miss. Saya bikin susunan konsumsi untuk 3 hari sedangkan logistik konsumsi yang kita bawa untuk 2 hari. Saya kira disamain aja dengan Tim Slamet yang hanya dua hari.” Kata Arli pelan dengan tatapan nanar memandangi api yang berkobar.
*krik krik* hening menyelimuti. Aku mendesah pelan. Tuhan lindungilah kami.
“Kalau kita summit hari senin, jam berapa berangkat dari camp terakhir?” Tanya kang Swach.
“Kurang lebih jam 4 atau 5 kang.” kata Hafizh.
“Gimana kalau kita summit besok? Kalau mau dapat sunrise, kita berangkat jam 1.”
*krik krik* hening makin menyelimuti.
“Tapi Anton lagi gak fit kang,”
“Yaudah sekarang Anton istirahat aja dan besok bangun paling terakhir. Biar kita aja yang siapin logistik.”

Hmm, kita di ketinggian 1625 mdpl dan puncak 3078 mdpl. Berarti kurang lebih kita harus mendaki 1400 mdpl. Ahahahahahikshikshiks *bengek langsung*
Tapi karena pertimbangan logistik, akhirnya kita bulatkan tekad bahwa kita summit attack besok jam 1. Aku merasa senang bisa summit besok dengan harapan akan bertemu dengan Tim Slamet di puncak. Sebelum persiapan tidur, aku bikin agar-agar dulu buat jadi bekal ke puncak. Setelah beres-beres, kita semua pergi tidur. Semoga besok bisa tepat waktu dan memperoleh sunrise di puncak Ciremai.
***
“Dil bangun..” seseorang berambut keriting dengan sarung di bahunya membangunkan aku. Aku langsung terjaga untuk antisipasi bahwa itu orang jahat. Oh. Ternyata Arli. Hehe.
Takjub juga, Arli yang pas di kampus biasanya susaaaaaaah banget disuruh bangun, ini di hutan kenapa jadi yang paling pagi bangunnya ? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.

Aku langsung masak mie instan buat sarapan. Dua bungkus mie dimasak untuk 7 orang, sebagai energi untuk mendaki puncak yang masih 1400-an lagi. *kuat kuat kamu kuat*. Camp PA lain sepi banget. Belum pada bangun kayaknya karena di camp kita doang yang terdengar grasak-grusuk.
Setelah semuanya bangun dan ganti baju tempur, kita membentuk jongkok melingkar untuk sarapan bersama-sama. Enak banget indomie rendang di pagi yang dingin itu, meskipun tidak mengenyangkan. Hahaha.
Ketika akan berangkat, tiba-tiba terdengar suara binatang yang melenguh – seperti babi hutan. Kami semua terpaku.

“Danlapnya pegang golok!” kata kang Swach. Aku semakin khawatir mendengar komando itu. Apa yang akan kita hadapi di depan sana? Aku mengkhawatirkan itu ‘si cantik’. Astaghfirullah.

Maka setelah berdoa memohon keselamatan, kita memulai perjalanan ke puncak. Kita ngaret lagi dan jadinya berangkat jam setengah tiga pagi. Aku bawa head carrier yang isinya obat-obatan dan sedikit makanan ringan. Kita juga bawa dua carrier yang dibawa secara bergantian. Aku bawa senter dengan kekuatan lumayan namun dengan jeniusnya aku ga bawa batre cadangan. Berhubung senternya baru dipake, aku masih tenang-tenang aja karena sinarnya masih cukup kuat.

Langit pagi ini terang benderang dengan taburan bintang-bintang yang luar biasa banyak. Aku membayangkan bahwa nanti di puncak kita akan mendapatkan cuaca yang bagus sekali. Maka dari itu aku semangat sekali berjalan. Anton masih kurang fit ternyata. Tapi karena saat itu gelap dan jika kita berjarak cukup jauh dari danlap maka akan cukup mengerikan juga, Anton nampak berusaha untuk menjaga jaraknya dengan Arli. Aku terus menerus menanyakan waktu pada Rivo. Bener-bener takut untuk ketinggalan sunrise. Namun ketika langit perlahan-lahan membiru, aku gigit jari. Itu sekitar pukul lima lebih. 

Di ketinggian ±2300 mdpl, aku melihat cakrawala yang mulai menguning. Sang surya akan segera bangkit dari peraduannya, dan kita tak mungkin mendapatkannya di puncak Ciremai. Sialnya, kita masih di hutan dengan vegetasi yang masih amat lebat sehingga untuk menyaksikan sunrise dari ketinggian kita saat itu pun sulit sekali. Dalam hati aku ingin menjerit. Berharap Tuhan menahan pergerakan jarum jam, berharap aku bisa terbang, berharap bahwa koordinat di GPS menyatakan bahwa sebenarnya kita sudah di ketinggian 3000 mdpl. Tapi gak mungkin, dan Anton juga masih kurang fit. Ya sudahlah. Aku menahan perasaan yang bergolak ini. Jangan egois, jangan egois. 
 Akhirnya aku pasrah dan terus berjalan. Kita solat shubuh di ketinggian 2400 mdpl. Itu sekitar pukul setengah enam pagi. Langit sudah cukup terang.
Saking tidak proporsionalnya area ini untuk dijadikan tempat solat, kang Antono nyaris terguling pada saat duduk takhiyat akhir. Dan aku malah menertawainya. Hahaha. Astaghfirullah.

Kita melanjutkan perjalanan. DP menyalib kita dan mereka melesat jauh kedepan. Arli ingin aku merasakan apa yang dari tadi anak cowok rasakan, yaitu bawa carier yang – ugh – berisi nesting isi agar-agar dan kompan. Oke aku coba dan ternyata – Aih. Berat banget dibandingkan head carrier yang isinya ecek-ecek. Hahaha
Dan aku bawa carier di medan yang permukaannya batu semua. Ini menuju Pos Sangga Buana 2. Menyesali kenapa aku ga bawa carier ini pas di awal perjalanan aja, disaat medannya masih aman. Oke jangan menyerah!

Aku mensugesti pikiranku bahwa puncak sebentar lagi. Maka dengan semangat ingin melihat sun-hot di puncak, aku melompati semua batu-batu yang menghadang – hehehe – dengan susah payah. Karena fokus penuh pada pijakan kaki dan terus melangkah, tahu-tahu aku udah jauh ninggalin mereka dan bahkan ketemu DP yang lagi istirahat. Akhirnya aku istirahat juga. Menuju pos terakhir, Pengasinan (±2700 mdpl), aku jadi danlap *wahahaha* bener-bener kebelet pengen makan karena kita Cuma bisa makan kalau udah nyampe puncak. This is the power of hungry.
Entah di ketinggian berapa, aku sempet ambil view langit berawan yang luar biasa. 




        
Dan saat tiba di Pos Pengasinan, disana ada PA yang lagi camp dan kayaknya baru balik muncak. Disini ambisi kita untuk makan di puncak goyah, dan akhinya membuka cemilan biskuit coklat dari kang Antono. 
 Pos Pengasinan 

 Baru pada ‘buka puasa’ dengan biskuit sedekah dari kang Antono


 Puncak Ciremai dari Pengasinan

Matahari udah mulai hot. Tapi yang ke puncak malah makin rame. Kita melanjutkan perjalanan sekitar pukul setengah sepuluh. Aku udah galau aja karena di atas jam 9 biasanya dari gunung berapi akan muncul gas belerang yang beracun. Tapi lihat yang lain masih semangat untuk melanjutkan perjalanan, ya sudah kita lanjuuuut.. 
 Padang edelweiss di perjalanan ke puncak

 Anton yang lagi galau dan berkunang-kunang

 Medan ke puncak Ciremai

Setelah lama bertarung dengan kemiringan medan, akhirnya! Kita nyampe di puncak Ciremai! Dengan berbinar-binar aku bersyukur bahwa aku berhasil sampai puncak dengan selamat. Allahu Akbar! Indah banget dari atas sini. Namun karena kita terlalu siang tiba di puncak, maka yang kita dapatkan adalah matahari yang serasa di ubun-ubun dan diterpa angin yang bersuhu rendah. Suhu ekstrim braaay. Pemandangan paling umum adalah samudra awan cumulus yang keren banget. :)

Setelah istirahat sebentar kita langsung makan bareng agar-agar yang luar biasanya masih tetap dingin. Agar-agarnya aku siram pake susu kental manis. Demi apapun, makan agar-agar rasa jambu yang dingin dengan saus susu kental manis yang lembut di atas puncak setelah mendaki dari pukul setengah tiga pagi itu bener-bener AMAT SANGAT SESUATU BANGET! Luar biasa nikmat. :D. menu selanjutnya adalah dua bungkus mie instan yang diremuk terus dimakan bareng-bareng. Wahahaha
Selanjutnya, bisa ditebak dong? Foto-foto…. 


 Kawah Ciremai








Kami berharap bertemu dengan Tim Slamet disini karena di tekdet, mereka muncak pagi ini. Maka aku teriakin nama Bima, Faris dan Lisa. Banyak yang menyahut tapi itu ternyata PA lain. (Setelah kembali ke Jatinangor, baru tahu ternyata Tim Slamet ngaret sehari karena mau muncak bareng-bareng sama kita. -_-)
Aku juga melakukan sesuatu untuk ibuku disini. Karena beliau ulang tahun di tanggal 28 Juni kemarin, maka aku sekalian ucapkan disini saja secara tertulis. 

Dalam juang aku bertingkah

Pola hidup yang tak kau mau

Aku bukan dalam pikiranmu Ibu

Karena aku ingin lebih dari apa yang kau pikirkan 
Wahai bunda permata hatiku
Selalu dalam doa-doamu 
adalah pintaku seumur hidup