Tampilkan postingan dengan label asyiknya mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asyiknya mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2015

Lagi Eling

Setelah saya pikir – pikir, ternyata sebenarnya saya tidak terlalu sibuk loh. Setelah dihitung-hitung, saya masih nyaris bisa memenuhi setiap sks kuliah yang saya ambil. (1 sks = 1 jam di kelas masih bisa lah, 1 jam mengerjakan tugas di rumah masih okelah, 1 jam belajar sendiri hmmm ya sepertinya perlu banyak toleransi. Hahaha)
Dan dengan saya mengurus Caldera dan PKM Kewirausahaan dari Dikti, ternyata saya masih bisa tidur cukup 5 jam tiap hari, dan masih ada waktu luang untuk menekuni hobi saya seperti SB (sleeping bingit) *loh?* dan menulis atau menggambar.

Lalu, kemarin-kemarin apa yang selalu menghabiskan waktu saya? Yang menyebabkan kekacauan dalam setiap aspek hidup saya (terutama dalam urusan bikin laporan praktikum – you know what I mean), kuliah, Caldera, PKM, bahkan orangtua? Aaaaa…. Actually, that’s f*cking euphoria of new smartphone!

Efek punya mainan baru, tiba – tiba dunia saya menjadi teralihkan. Jagad raya yang maha luas ini, jadi serasa hampa dibandingkan dengan hiruk pikuk dunia yang dengan mudahnya terpantau dalam genggaman tangan.  

22.02
“Dil, kerjain laporan.” Kata temen.
“Bentar ya, IG-an dulu.”
22.45
“Dil, kerjain laporan”
“Mau cek path dulu bentaaar”
23.39
“Dil… (udah males)”
“Ini lagi asik chat line” terus asik sendiri “anjir lah, gue di mention banget nih?” -_-
01.10
“Gua ngantuk, bangunin jam 3 ya.” kata si saya
Bablas time – 05.57
“Si kampret kagak bangunin. Yaudah ah, mau liat Wasap dulu.” Padahal praktikum 4 jam lagi.

Gila! Emang gila. Saya akui, kemarin2 itu saya terlalu berlebihan. Semoga Tuhan mengampuni saya yang dzalim terhadap waktu, dan ironisnya saya sangat pelit untuk menyediakan waktu mengaji. Hiks. Bener kata Einstein, “Akan datang masa dimana teknologi akan melampaui interaksi manusia. Akan muncul generasi yang idiot.”

Iya saya ngaku saya ngerasa idiot.  
Sekarang? Ga guna menyesali waktu yang telah terbuang percuma. Saya berusaha bangkit, menggunakan smartphone seperlunya, sebermanfaatnya. Ya mungkin karena udah mulai bosen juga dengan medsos semacam itu. Baguslah, biar proses moving forward nya lebih cepat. J

Malu lah.
Jadi, nonsense dong hasil penempaan organisasi selama bertahun – tahun mengenai manajemen waktu mahasiswa, kalau akhirnya KO oleh gemerlap dunia media sosial? Wkwkwkw.  

Oke, itu hanya intermezzo. Hahaha. Ambil pesan moralnya, abaikan alay amoralnya hahaha.  

Dan karena saya baru sadar kalau ternyata saya masih punya waktu luang, saya mencoba merenung. Memikirkan banyak hal, terutama mengenai Mamah saya.
Kemarin – kemarin, sebenarnya dari dulu – dulu sih, saya memang cukup sulit dihubungi melalui telepon. Hmm, bahasan kali ini merujuk ke Mamah sih. Jadi, beliau kalo nelpon saya, kasarnya baru di panggilan ke 7 saya baru angkat telepon saking susanya saya pegang hape. Soalnya, kalo hape nya ga di silent, ya saya asik ama laptop sendiri, asik ama pikiran sendiri. Hahahaha
Dampaknya? Mamah meneror (neror banget nih bahasanya?) teman – teman saya dengan menelpon mereka satu – satu buat nanyain keberadaan jasad saya dimana, apakah saya kuliah hari ini, apakah saya ada di sekre, atau di kosan, apakah saya sudah makan, dan lain – lain.

Dan kejadian itu cukup sering juga, dosisnya bisa lah 3 hari sekali. Jadinya saya sering kena protes dobel. Dari Mamah yang marah – marah karena saya jarang pegang telepon, dan dari teman – teman saya yang kesel sama saya karena saya super susah dihubungi orang tua (jadinya mereka yang sering kena semprot) hehehe mamaaah, peace eaa..
Saya awalnya berpikir skeptis.
Ih, mamah. Lebay amat.
Bete deh jadinya kena marah dari mana-mana.
Ga ngerti apa saya sibuk. (padahal seperti kata prolog diatas, saya tidak terlalu sibuk!)

Dan ketika adik saya ikut ngomelin saya juga, saya makin kesel. Seakan saya ini anak yang sangat tidak berbakti. Saya makin males ngangkat telepon dari Mamah (karena sebagian besar isinya nyeramahin saya yang susah dihubungi). Makin males balik ke rumah. Dan beneran jadi makin durhaka kayaknya. Naudzubillah. L

Dan itu udah berlangsung selama hampir satu tahun belakangan ini.
Udah 21 tahun saya hidup, dan baru berpisah atap selama hampir tiga tahun (ya karena kuliah maksudnya) dengan Mamah. Saya selalu tahu kalau Mamah berjuang membiayai saya kuliah. Saya berasumsi kalau Mamah adalah investor hidup saya, membiayai seluruh hidup saya (sejak Papah meninggal), menginvestasikan uangnya untuk menghasilkan saya yang berkualitas sehingga saya bisa membahagiakan beliau di masa depan. Brengsek ga sih saya? Dua tahun lebih saya membuat frame semacam itu pada Mamah saya. Pantas saja, saya selalu biasa saja bila beliau nelpon, biasa saja kalau pulang ke rumah, kadang malah tidak betah di rumah dan ingin secepatnya berada di Nangor lagi, dan jika tiba di hari ulang tahun beliau, malah timbul pikiran “Hmm, udah kepala empat mah ga perlu ucapan selamat lagi kali yaa… ” kemudian, yasudahlah.
Kadang merasa berdosa ketika tidak pulang – pulang, tapi perasaan itu segera terkubur oleh kehadiran adik saya yang selalu pulang tiap minggu ke rumah.  
Kadang merasa bersalah ketika Mamah begitu sulit menghubungi saya, tapi perasaan itu segera teralihkan oleh percik – percik kampret yang bergemuruh ‘yaudah lah maklum kan ya saya sibuk’ – sibuk sialan.
Kemudian tiga hari yang lalu, ketika menemukan waktu – waktu tenang tanpa smartphone, saya membayangkan kondisi dimana saya yang menjadi seorang ibu. Mencoba berdiri dari sudut pandang Mamah.

Aku adalah single parent yang berjuang sendirian, yang kesepian, yang tidak akan menikah lagi demi anak – anak saya yang berharga meski sebesar apapun aku menginginkannya.
Aku menantikan anakku pulang setiap minggu tapi ia sibuk di tanah padjadjaran.
Aku kebingungan, kehabisan akal bagaimana cara agar dapat mendengar suara anakku walaupun hanya melalui telepon, Aku kalap begitu ingin mengetahui kabarnya. Peduli amat harus menghubungi teman-temannya juga, mungkin akan malu karena aku akan mengganggu mereka, tapi aku harus tau dimana anakku berada.  
Aku rindu anakku. Biarlah tiap pulang ia selalu menyanyi keras-keras, tapi aku merindukannya.
Anakku, balas sms mamah…
Kumohon, jangan naik gunung lagi. Aku begitu khawatirnya sampai jantung ini seakan tak kuat untuk berdetak lagi.
Jadilah kuat, tetaplah semangat. Dan aku ingin menjadi bagian yang selalu kau ingat, nak.

Sumpah. Saya nangis. Ga kuat. Seakan saya ga sanggup menghadapi kenyataan kalau di masa depan, anak saya akan seperti itu. Ah, Mamah. Betapa saya banyak dosa pada Mamah. Sesak dada saya, seakan ada badai membuncah memaksa saya untuk pulang saat itu juga. Saya baru pertama kali memandang ibu saya bukan sebagai investor (selama saya kuliah), tapi benar – benar sebagai ibu. Dan, saya rindu sekali padanya. Maafkan saya Mah.. Tolong maafkan.. Saya sadar, saya benar – benar mencintai Mamah.

Dan ketika saya mengimplementasikan perasaan saya dengan mengirimi Mamah sms tiap pagi, ah betapa leganya hati ini entah kenapa. Bahagia juga, dan dada sesak oleh semangat bergelora untuk menjadi lebih baik lagi untuk Tuhan dan orang tua, dan juga diri sendiri.
Teringat pesan seorang Profesor ITB yang juga Ketua MUI Kota Bandung, “Untuk bahagia, cintailah orang tuamu. Untuk menjadi orang sukses, berbaktilah pada orangtuamu. Dosa – dosa lain bisa diberikan hukumannya di akhirat nanti. Tapi dosa pada orang tua tidak akan menunggu akhirat, akan dibalas langsung oleh Tuhan di dunia ini. Berupa apa?
Kenelangsaan.”


Semoga kita menjadi anak yang berbakti dan mencintai orang tua kita. J

Kamis, 26 Februari 2015

Photoshop VS Python (tapi yang menang Python)

Hai, lama tak berkoar – koar.
Aih ini adalah postingan pertama saya di taun 2015. Jadi, selamat tahun baru semuaa #extremelatepost

Nah, berhubung ini taun baru, pastinya ingin suasana baru kan pas baca postingan saya. Jadi, saya mau ganti sudut pandang orang pertama yang biasanya pake ‘saya’, mau transisi ke arah yang lebih gahol-able yakni ‘gue’. Semoga terbiasa yaa hehehe
#GUEmodeON

Sekarang, gue udah memasuki kuliah semester 6 guys. Anjrit lah gak kerasa padahal berasa baru kemaren beres semester 5. Hehehe
Yah, setelah sebelum – sebelumnya gua cuma denger kisah horror tentang sebuah mata kuliah dari para senior, akhirnya di semester ini gue ngambil mata kuliah itu. Sebut saja namanya Fiskom. Bukan Fisi Misi Komunikasi, apalagi Fisiologi Komplotan. Tapi Fiskom itu adalah Fisika Komputasi. *mana jeritannya kawan –kawan ?*

Mata kuliah horror.
Seenggaknya buat spesies kayak gue. Karena dosen yang ngajar bilang kalau Fiskom yang terhormat ini dibutuhkan di segala bidang pekerjaan. Si dosen ini emang hiperbola banget. Gue sebagai orang yang bercita- cita sebagai ibu rumah tangga, seketika meragukan keharusan untuk menguasai Fiskom ini. Entar bukannya ngurusin anak, malah ngasuh Lepi dan Kompi.

Tapi karena ini mata kuliah wajib, yang berkat perjuangan luar biasa ibu gue untuk bayaran kuliah semester ini, sehingga gue bisa ambil itu matkul (Ibu, entah aku harus berterima kasih atau berhujat), maka gue bertekad untuk sanggup melalui matkul ini dengan nilai A. hehehe
Tapi, tekad yang kuat pasti dihadang rintangan berat juga.

Seriusan, baru pertemuan ke 4, tubuh serasa ga berjiwa. Kita dikasih tugas buat bikin coding dari 3 fenomena fisika dan dibuatnya di software programming kayak Matlab dan Python. Dan pas menuju hari – hari pengumpulan tugas, gue pengen install Matlab dan Python di Netbook gue. Maka, konflik batin pun dimulai.

Kenalkan, netbook mungil gue, yang udah 2 taun lebih jadi piaraan kesayangan gue. Warnanya biru sendu, layarnya udah pecah sekali, harddisknya gampang kegeser, dan kabel flexinya udah gereget banget minta diselamatkan (karena udah nongol2 dari badan si Netbook). Buat spesifikasinya, ga usah gue sebutin karena pasti ga ada yang berminat. Yang jelas, gue bertekad untuk jadi orang hebat dengan bantuan dari Tuhan, orang tua, kawan – kawan, dan netbook ini. Netbook ini dibelikan ibu gue sebagai pusaka yang akan menemani perjuangan gue selama kuliah. Jadi wasiat banget deh ini netbook.

Tapi, alih – alih digunakan untuk kepentingan kuliah, harddisknya sebagian besar malah diisi dengan film, poto2 alay, lagu – lagu jadul, dan lain – lain. Bahan kuliah mah, paling cuma sebagai pelengkap sandiwara doang. Hehehehe
*Kok malah jadi bahas netbook ya -_-*

Jadi intinya, netbook gue ini suka kejang – kejang kalo kebanyakan ngeinstall program. Apa ya istilahnya, nge-hang. Pokoknya kalau lagi nge-hang, ini netbook pasti bikin hang over. Pusing. Nah, berhubung gue mesti ngeinstall Matlab dan Python di netbook, maka gue harus uninstall software – software lain.

Sial.

Software di netbook gue, kebanyakan berupa software desain kayak photoshop, Corel Draw, Sketch Up, InDesign, dan sekarang malahan gue lagi nyari crack-an Lectra Kaledo. Hehehe, sengaja banyakin software macam begitu. Software – software inilah yang menemani di kala gue merasa terpuruk saat mengerjakan tugas kuliah (dan nyaris selalu terpuruk). Karena sejak gue memutuskan masuk Fisika demi Ibu gue, gue bertekad bakal jadi satu – satunya jebolan Fisika yang mengubah dunia (setidaknya dunia gue sendiri. Hehehe) karena kemampuan desainnya. Aminkan tolong.
Kebayang kan betapa berharganya software – software itu buat gue? Dan akhirnya Photoshop ama Sketch Up gue uninstall demi pindah ke lain hati. Aaaaaaaakkk

Tapi setelah gue install Matlab dan Python, dan menyadari bahwa kedua makhluk itu sama sekali tidak friendly sama gue, *atau gue yang ga bisa pedekate?* maka gue frustasi. Guys, bayangkan! Gue mengusir software kesayangan gue demi mendekati software – software yang begitu dingin dan gak bisa nge-blend sama kepribadian gueee! Mati aja udah, matilah kaaauuuu

Hingga akhirnya Judgement day tiba. Beruntung Fiskom hari ini Cuma 50 menit. Ivan dengan jumawanya maju ke depan mencas-cis-cuskan program dia yang buat gue ‘it’s so complicated’. Sukses, dia sukses bikin gue melongo, putus asa, dan jiwa serta pikiran gue udah ga berada pada tempatnya lagi, menerawang bahwa hidup ini terasa begitu sulit, hanya karena gue menginstall software yang ga gue banget.

Yang gue inget dari kuliah Fiskom hari ini cuma pas dosennya bilang,
“Kalian jangan anggap tugas ini sebagai kewajiban, kalian harus ngejar ‘bisa’ kalau mau maju.”
Hahaha.. iya pak, BISA kok, BISA MENUNAIKAN KEWAJIBAN. Huhuhuhuuu #SADbutTRUE

Yah inilah sekelumit dari kisah – kisah dramatis gue dalam dunia mahanya para siswa. Gue selalu bahagia dengan ke-frustasi-an ini. Mungkin ini letak dinamikanya ya. (Gue mencoba menghibur diri guuyyss, hiks). Tolong doakan saja temanmu ini, sedang merintis juang dalam remang yang tak nampak ujungnya.

-27 Februari 2015-


Minggu, 09 November 2014

Katanya Sih 'the last'

Waaaah jarang lagi berbacot di blog, sibuk aku sibuk,

Sibuk nyari kesibukan, jadinya sibuk ga jelas. Tapi dari kesibukan – kesibukan itu, akhirnya menemukan kesibukan yang hakiki. *apasihmulaidehpenyakitnya

Tapi kemaren2 dapet kejadian amajing lagi, jadinya pengen ditulis buat diceritakan kepada pembaca sekalian, tentang kelakuan anak manusia yang perlu jadi perhatian para saintis; Pengaruh Masa Reses Organisasi terhadap Keyakinan Manusia
Judul penelitian yang keren kan ? hahaha

Nah, apa hubungannya dengan cerita yang akan saya ceriterakan?

Jadi, kemaren tanggal 5 November 2014 tuh ada Wisudaan Gelombang I tahun 2014 – 2015. Setiap ada wisudaan, HIFI punya program kerja (proker) andalan dari departemen Humas yang bernama GRADIENT (Graduation Achievement). Di Proker ini, kita sebagai Badan Pengurus HIFI ngasih apresiasi buat para Wisudawan/i dari Fisika Unpad dengan algoritma sebagai berikut:
Datang keroyokan pake jaket himpunan warna merah yang semarak -> Ngericuh di Dipati Ukur dengan teriak – teriak jargon HIFI -> Ngeberantakin halaman Graha Sanusi dengan ngelempar – lempar potongan kertas bekas ke para wisudawan Fisika yang datang ke ‘Gradient Area’ -> ngasih bunga dan sertifikat penghargaan kepada para wisudawan -> nyediain photo booth buat mereka foto – foto euforia baru lulus -> mempersilahkan salah seorang wisudawan untuk memimpin jargon kebanggaan, FISIKA! HIFI! HIFI! HIFI!

Pokoknya momen Gradient ini selalu menjadi pemicu buat kita yang masih mahasiswa ini, untuk pengen lulus secepat mungkin. Siapa sih yang nggak seneng pas lulus dapet apresiasi seanarkis itu dari adek – adek junior yang pernah kita mabim? Hahahahaha

Nah, sepanjang sejarah saya dalam ikut Gradient ini, momen yang terasa selalu menyenangkan. Iya lah, ikut menyaksikan kakak – kakak senior yang pernah ngebimbing kita ini lulus dan menuju gerbang kehidupan baru itu bener – bener sesuatu banget. Gradient ini juga ajang HIFI buat eksis di Dipati Ukur dengan kelakuan kita yang berisik banget, jadi bisa buat sekalian konsolidasi para anggota Badan Pengurus dan nunjukkin kekompakan kita di depan para senior yang datang. Intinya, Gradient ini salah satu proker favorit kita J

Nah, pas tanggal 5 November kemarin itu, Wisudaan di Gedung Graha Sanusi Unpad Dipati Ukur dimulai jam 1 siang buat wisudawan/i Fisika. Anak – anak dari pagi kebanyakan udah pada merencanakan buat datang. Awalnya udah mau berangkat rame – rame, tapi gatau gimana ceritanya malah jadi pada berpencar.

Saya ama Rara, yang entah kenapa hari itu dikondisikan selalu bersama, akhirnya memutuskan berangkat secara mandiri dengan Damri jurusan Jatinangor – Dipatiukur. Kita nyampe di Gerbang Lama Unpad jam setengah duaan siang. Kita udah prediksi bahwa dari Nangor pasti banyak banget mahasiswa yang memburu Damri buat ke wisudaan, dan kita ga bakal kebagian tempat duduk kalo nungguin di Shelter Gerbang Lama. Akhirnya saya dan Rara memutuskan buat meniti jalan ke Shelter Gerbang Baru yang emang posisinya lebih dulu untuk dilalui Damri. Eh ketemu sama Kanjengnya HIFI dan Parto-nya HIFI, Yun dan Ahdan. Terus kita jajan es potong dulu deh. Feeling masih enak soalnya semua nampak baek-baek aja. Kita berempat jalan bareng ke Shelter Gerbang Baru dan pas nyampe ketemu sama Pabos, Iman, dan Aldo yang udah nguncen duluan di shelter. Di kemudian waktu, kita tahu kalau 7 orang udah jadi tim perintis untuk berangkat duluan ke Dipati Ukur, yaitu Ivan, Yati, Baper, Afifah, Pipit, Depe, dan Mochan. Mereka kebanyakan emang tim inti Gradient makanya musti duluan ada di TKP.   

Bener – bener rame banget di shelter dengan seperangkat orang – orang yang mau datang ke wisudaan juga. Tiba – tiba semua orang jadi sangat sensitif terhadap benda bernama bus. Ngeliat bus di kejauhan, pada langsung posisi mau start lari dengan lubang hidung yang kembang kempis dan urat di kepala yang menegang. Pas tau kalau itu bukan bus ke dipati ukur, kepalnya yang menegang karena kecewa. Pokoknya berbahaya sekali persaingannya. Saya ngeri liat beberapa cewek udah nyiapin cakarnya buat berjuang di pintu masuk Bus. Haha 

Syahdan, jam 2an siang bus nya datang. Saya prediksi kalau bus bakal berhenti 4 meter di depan saya berdiri. Melihat orang – orang pada maju mendahului saya untuk mendekati bus, strategi saya adalah berjuang rebutan masuk lewat pintu depan, karena pintu belakang nampak udah dinantikan banyak orang jadi peluang buat bisa masuk bus kecil banget.

HEBATnya saya, prediksi saya benar sehingga saya berhasil masuk ke dalam bus lewat pintu depan. Bahkan sempat megang dua baris kursi buat teman – teman saya. Tapi Cuma sempat, karena…  

BEGOnya saya, saya ga bagi – bagi prediksi dan analisis saya ke temen – temen sehingga hanya saya yang berjuang lewat pintu depan, dan mereka semua lewat pintu belakang. Aaaak! Kalian! Tidakkah kalian melihat bahwa orang – orang yang memburu pintu belakang begitu mengerikan!!?? *garukgaruktembok

Akhirnya ? Saya berada di dalam bus sendiri, memandang cemas ke berbagai sudut. Ke temen – temen saya yang nampak kesulitan untuk naik, dan ke orang – orang yang berhasil masuk dan menatap buas ke arah kursi – kursi yang udah saya tandain. Saya perlahan – lahan menyerahkan kursi yang awalnya sudah saya kuasai satu persatu, sampai akhirnya menyisakan sepaket kursi yang terdiri dari dua kursi untuk saya, Rara dan Yun. Saya mukul – mukul jendela berharap mereka melihat saya, tapi mereka nampak tidak ada daya untuk berjuang. Pabos melihat saya dan malah menertawakan saya. Saya tak peduli. Saya tetap menyemangati mereka agar bisa naik karena dua kursi ini, Oh Tuhan betapa berharganya..

Tapi memang takdir berkata lain.

Bus sudah penuh, dan temen – temen saya mengambil langkah mundur.
Tidaaaak! Hellooooooo, duit dan hape saya ada di tas Rara, gimana ceritanya saya bisa bertahan ke Dipati Ukur sendirian tanpa dua elemen primer kehidupan neo liberal ini!?

Akhirnya dengan mendengus terlebih dahulu, saya memutuskan untuk TURUN LAGI. Oh my to the God, dan ketika saya turun, kalian semua tertawa kecewa karena saya turun lagi. Akkk dasar Kampretosss!

Rapat dadakan dimulai. Fakta saat itu adalah, pertama udah jam 2 lebih tapi kita belum berangkat, kedua perjalanan ke Dipati Ukur selalu tidak bisa diprediksi macet atau nggak, ketiga kalo wisudaan mulai jam 1 siang biasanya bakal beres jam 3. Kita bimbang mau berangkat atau kagak. Di satu sisi, kita pengen banget berangkat ke Gradient. Tapi di sisi lain, kita sangat nggak mau ngerasain rasanya ‘almost’ dimana pas udah capek – capek datang ke Dipati Ukur, eh wisudaan udah beres, photo booth gradient udah dilipat, dan kita pun masuk ke kondisi ‘krik krik’ yang menyesakkan dada. Saat itu, kita mikir kalo damri berikutnya bakal lama lagi datangnya. Akhirnya tanpa pikir panjang kita angkat kaki dari shelter dan fix ga jadi berangkat dengan pertimbangan bahwa kalau kita berangkat, wisudaannya bakal keburu beres. Kita jalan ke Gerbang Lama dan sesungguhnya pikiran kita bener-bener masih galau pengen berangkat atau nggak. Alasannya ?

Pertama, ini tahun terakhir angkatan saya megang di himpunan, Kedua Wisudaan ini wisudaan terakhir sebelum kita musyawarah anggota untuk mempertanggung jawabkan setahun kepengurusan ini. Jadi intinya, ini Gradient terakhir angkatan saya sebagai Badan Pengurus HIFI. Sebenarnya, besoknya tanggal 6 November masih ada Wisudaan Part 2 buat wisudawan/i Fisika. Tapi besok jadwalnya pas kita lagi kuliah dan ngaslab sehingga hari itu adalah kesempatan terakhir kita. Pokoknya gundah gulana bangeeet.

“Ayolaah, ini the last.. ” suara – suara berontak bergaung di kepala. Tapi sudahlah… kita lelah.  

Yang bikin ngeselin, pas kita nyampe di Gerbang Lama, di Shelter Gerbang Baru ternyata telah tiba sebuah bus damri ke Dipati Ukur. Aaaaaak ini baru ‘almost’ yang pertama. Karena ga mau ‘almost’ yang kedua pas nyampe disana, kita makin fix buat ga berangkat. Aldo, karena penanggung jawab Gradient, memastikan tanggung jawabnya dan dia ditemani Iman memilih naik travel buat tetep berangkat ke Dipati Ukur.

Tapi takdir kembali berkata lain.    
Bayangan di kepala kita semua sama.
Membayangkan bahwa ini adalah kesempatan terakhir kita untuk datang ke Gradient sebagai Badan Pengurus, membayangkan bahwa beberapa dari kita udah rela bolos kuliah, membayangkan bahwa Gradient adalah proker favorit kita semua, membayangkan bahwa Tim Perintis yang udah disana duluan bakal kerepotan buat ngendaliin wisudawannya, akhirnya kita memutuskan mengekor Aldo naik Travel. Saat itu, kita mikir kalo naik Damri bakal lama jadinya ga nungguin damri yang udah nangkring di shelter gerbang baru buat lewat. Travel biasanya tahu jalur sendiri jadi bisa lebih cepet. Saya, Yun, Rara, Ahdan, Pabos jalan setengah lari dengan rusuh buat nyusul Aldo yang udah ke Travel duluan. Si Yun tiba –tiba ngidam cimol dan di tengah – tengah kericuhan itu, kita semua juga pengen makan cimol. Akhirnya kita mampir bentar ke gerobak cimol di pinggir jalan untuk memuaskan nafsu kita semua. Hahaha

Nyampe di Pos Travelnya, ternyata kalau kita mesen, kita bakal kebagian mobil jam 4 karena banyak banget yang mau ke Dipati Ukur pake travel. Oh man…. !!
Oke fix ga jadi berangkat!! Udah bukan darah aja yang naik ke ubun – ubun, tapi urat – urat nadi kita semua kayaknya udah pada mau copot.

Terus tim perintis menghubungi kita dan ngasih tahu kalo prosesi wisuda baru mulai jam 2. Berarti kita bisa jadi masih ada kesempatan, KALAU ADA TRANSPORTASINYA! Walaupun merasa sayang, tapi ya sudah lah .. mungkin bukan kesempatan kita.

Tiba – tiba Aldo tereak kalau Bus Damri ke Dipati Ukur mau lewat. Demi apapun, kita yang saat itu lagi duduk cantik, langsung terbang buat ngejar bus. Nggak terbang sih, Cuma kita kayak ngejar bus udah kayak kesetanan banget.

Akhirnya, setelah melewati serangkaian rintangan,

Kita berada dalam Bus Damri,

dengan posisi berdiri.

Ahahaha. Coba kalau ga ke travel dan nungguin bus di gerbang lama, mungkin masih bisa duduk. Aaaah, emang kita ini tim ‘almost’.

Aku jadi penghubung antara tim ‘almost’ ini dengan tim perintis dan keep contact dengan mereka. Sepanjang Baper ngebales ‘belum keluar wisudawannya dil..’, kita para pejuang Gradient masih bernafas lega.  Tapi pas hape saya mati gara – gara habis batre, saya pengen ngelempar itu hape ke sopir saking gregetnya. Dan pas jam 4 kurang seperempat, ketika kita masih terjebak entah di sisi mananya Bandung, Baper ngesms kalo wisudawan udah pada keluar, aaaaaakk dada nyesek banget. Dan kalo ada penumpang yang minta turun sehingga Pak Supir memperlambat kecepatan busnya, bawaannya pengen tereak,

“Heh brengsek cepetan keluar gue mau GRADIENT PLIIISS!!”

Akhirnya kita nyampe di Dipati Ukur jam 4 lebih. Saya saking ricuhnya, turun dari Bus langsung jatuh soalnya kaki kesandung portal. BODO AMAT. Udah kagak ada malu lagi, kepala cuma fokus sama Gradient. Setelah melewati perjuangan yang membuat kita sangat mengelus dada, akhirnya…

“Aaaak, akaaang selamaaat udah luluuus.” Kepada kakak lelaki kita yang berjubah.

“Teteeeeh, selamat yaaa semoga udah lulus tambah sukses.” Kepada kakak perempuan kita yang bertoga.

“Kaaang, kapan lulus??” kepada kakak – kakak kita yang berharap.

Hehehehehehe….

Yaaah.. kita ternyata tidak terlalu terlambat. Euforia kelulusan lagi hot banget. Dan saya ama Rara ngerusuh dengan minta foto bareng dengan beberapa senior yang udah lulus dan yang belum lulus.














Puas puas puas! Kalo saya mah puas, gatau kalo yang lain. Pertama kalinya saya berhasil difoto dengan hampir semua wisudawan/i yang ada. Emang sih karena kebanyakan yang lulus itu akang teteh 2010 yang udah ngemabim dan ngaslabin kita jadi udah deket. Dan mengingat history-nya gimana saya bisa berada di Dipati Ukur sore itu, aaak luar biasa gembiraaaa, Hihihihi

Oh ya, teruntuk akang dan teteh wisudawan/i yang telah lulus, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru. Gelar udah didapat, sekarang ada tujuan baru yang harus dikejar. Ingat terus yak sama almamater dan HIFI. Semoga akang dan teteh tetap semangat mengejar cita – cita, dan sukses selalu. Terima kasih untuk semuanya, dan Selamat Jalan.


Minggu, 31 Agustus 2014

NET mampir ke Lapangan Merah

Tanggal 18 Agustus kemaren adalah hari dimana Kemerdekaan Indonesia berusia 69 taon lebih 1 hari. Hahaa

Nah bertepatan dengan hari penting itu, di kampus Unpad Jatinangor yang tercintah, sedang ada penyerbuan yang serius dari para mahasiswa baru Unpad angkatan 2014. Mereka subuh – subuh udah pada ngumpul (atau dikumpulin?) di gerbang Unpad buat menyerbu Stadion Jati. YA IYALAH! Hari itu ka n ada PRABU, alias Penerimaan Mahasiswa Baru. Oh iya, mau nyombong dikit. Project Officer alias ketua pelaksana PRABU 2014 adalah teman seangkatan sejurusan seperjuangan ku loh! Namanya Fadoldold. Ini nama alaynya. Nama aslinya Bocil. Nama KTP nya Fadlullah, tapi dia dipanggil Fadlan pun menyahut. Emang dasar orang sibuk, identitasnya kebanyakan. Hhehee pis dlaaan J

Nah, dalam Prabu kali ini ada sesuatu yang wah, dan membuat saya sampai terkagum – kagum pada Fadlan. Dalam salah satu sesi di Prabu, panitianya mengadakan Talkshow dengan CEO NET Mediatama, Wishnutama Kusubandio. Oalaahh keren lah. Salah satu dari Factor of Keren itu adalah karena beliau datang ke Unpad tidak menggunakan Alphard, atau Limousine, atau Becak, atau kendaraan apapun yang rentan kemacetan. Beliau datang dengan Heli. Bukan Heli guk guk guk kemari guk guk guk. Tapi Helikopter. HELIKOPTER. Dan dengan jumawanya juga, helikopter itu landing di Lapangan Merah kebanggan kami, anak HIFI FMIPA UNPAD, tempat bersejarah selama kami menjadi peserta pengkaderan senior, halaman belakang ruhim kami, tempat penempaan kami. Oalaaah dramatis sekali. Hahaha

Beruntung banget pas peristiwa pendaratan helikopter itu, saya dan anak - anak lagi pada di ruhim. Suara dengung helikopter yang sangat dekat membuat kami berhamburan keluar ruhim. Hary, saat itu sedang ditakdirkan untuk membawa sebuah kamera analog yang bagus buanget, sehingga tidak kami sia – siakan peristiwa langka ini. NET’s Helicopter Landing on the Red-Hell Field. Wuaahh Headline News yang awisam bbangget :P

Debu lapangan merah yang secara dramatis berterbangan bersamaan dengan kaki helikopter yang menyentuh tanah penuh sejarah ini.

Hary dalam kebahagiannya, menemukan objek foto yang edaan pisaaan hehe



Saya merasa sangat cantik di foto ini, latarnya bagus banget. hehehe


Salam dua jari buat NET, Pak Wishnu sampai ketemu di masa depan yaa hehehe

Persiapan Take off, keren banget... pengen beli satu. Amin

Eh pasti elo mikir saya ini norak ya? hehe bodo amat. Toh, efeknya malah bagus, membuat terbesit sebuah keinginan mulia di hati saya, untuk menjadi kolektor helikopter. Bhaahahahaaa 

Jumat, 27 Juni 2014

Konsekuensi

Barangkali saya tidak memilih untuk memiliki waktu luang yang banyak.
Barangkali saya tidak memilih rekan kerja yang memiliki waktu luang yang banyak.
Iya. Ini konsekuensi yang mesti saya terima atas pilihan-pilihan itu.
Saya bersyukur telah diberikan kesempatan untuk berbuat lebih banyak.
Saya bersyukur telah diberikan orang-orang yang membantu saya banyak.
Saya telah bersyukur. Saya bahagia.
Jadi, apapun hasilnya di kemudian hari, saya bersyukur atas langkah-langkah yang telah saya buat bersama mereka.

Saya bersyukur. Terima Kasih Tuhan.


Minggu, 11 Mei 2014

Crazy Twenty


Saya nulis postingan ini, mungkin konteks ceritanya tentang hari jadi saya yang ke dua puluh. Tapi saya tulis ini sebagai bentuk persembahan untuk mereka, sahabat-sahabat saya yang memalukan, tapi membuat saya bangga telah mengenal mereka. :)

Lagi-lagi pulang ke kosan dengan kondisi abnormal.
H+1 20 tahun, pulang ke kosan dengan badan dan baju basah kuyup, bau dan menjijikkan karena diceburin ke cekdam Unpad dengan hinanya oleh para antek-antek POM (Pekan Olahraga Mipa) 2014.
H+3 20 tahun, pulang ke kosan dengan badan dan baju basah kuyup, ekstra dangdut karena disemprot glitter alay sama Winna dan Baper dan para pasukan-pasukan himpunan lainnya.
Ah Tuhan.

Saya merasa aneh. Di usia yang udah masuk kepala dua ini (berasa tua -_-), Engkau masih memberiku kesempatan untuk ‘dianiaya’ di hari kelahiran saya. Meski udah ga pake sandiwara-sandiwaraan lagi, tapi tetep aja klik banget penganiayaannya. Hal-hal sederhana seperti menceburkan orang ke cekdam, menyiram orang dengan air bekas cuci piring, menyemprotkan glitter alay, colek-colekkan muka pake whipped cream, dan aksi ‘sadis’ lainnya, seakan kembali merefresh mental kanak-kanak saya. Perasaan menjadi anak-anak itu, adalah salah satu anugerah Tuhan yang amat saya syukuri karena dapat merasakannya dengan bahagia – yang entah mengapa saya takut kehilangan perasaan itu.

Saya memang menantikan kedewasaan berkembang dalam diri saya. Namun saya enggan melepas masa kekanak-kanakan saya ini. Seakan itu adalah aset yang sangat berharga dalam hidup saya, aset yang dapat membahagiakan saya dalam beberapa waktu. Dan saya teramat bersyukur telah menjadi bagian dari lingkungan tempat saya sekarang. Lingkungan yang dapat melatih kedewasaan pemikiran saya, tapi tetap dapat memelihara mental kanak-kanak saya. Kadang saya begitu takjub dengan orang-orang di sekeliling saya yang begitu hebat, begitu dewasa namun tiba-tiba berada dalam kebocahannya. Mereka yang tahu saat dimana mereka menjadi begitu kuat, dan saat dimana mereka menjadi memalukan. Hahahhaa

Dan dari hasil H+1 dan H+3 20 tahunan saya, muncul saja perasaan semacam takut. Takut akan kehilangan mereka. Barangkali saya takut kehilangan pikiran kanak-kanak saya, karena mereka lah yang membantu saya untuk tetap mempertahankan pola pikir seperti itu. Tapi lebih dari sekedar itu, saya bersyukur telah mengenal mereka. Kalau bahasa so sweetnya, ada suatu ruang khusus di tubuh saya yang mereka termasuk ke dalamnya. Wkwkwk lebay yaa. Ah Tuhan. 

Saya merasa malu. Mungkin mereka berharap saya nraktir mereka makan, atau jalan-jalan ke tempat wisata yang asyik untuk merayakan 20 tahunan saya. Tapi maafkan saya yang begini. Yang belum bisa memberi apa-apa, padahal kalian sudah memberi banyak pada saya. Saya hanya dapat berdoa dalam hati, semoga Tuhan membalas lebih banyak budi baik kalian selama ini terhadap saya, dan semoga saya bisa membahagiakan kalian suatu saat nanti. Terima kasih karena selama ini telah menerima saya apa adanya. Saya ini memang pelupa. Tapi saya tak sudi melupakan kalian. Bukan Sweet Seventeen yang menakjubkan, tapi Crazy Twenty yang mencengangkan. Sahabat-sahabat yang aku kasihi, Tuhan yang Maha Agung yang telah mengirimkan kalian dalam hidup saya. Alhamdulillah. 

Kamis, 20 Maret 2014

Bung Karno dan Bung Hatta #part 2

Suasana siang itu agak mendung. Saya dan Abid sampe nyegat Maul yang baru nyampe ruhim untuk kita pinjem motornya. Abid kalap dan agak ngebut. Kita memutuskan untuk ngeprint di tempat print Geologi aja. Kebetulan saat itu udah mau jam setengah 2an.

Alhamdulillah di Geologi kosong, biasanya yang mau ngeprint ngantrinya udah kayak yang mau nerima sembako aja. Abid langsung mengisi kursi operator, memasukkan flash disk ke laptop, dan ...

“Dil, kok ga ada?”
“Nama file nya apa?”
“Pelatihan Keorganisasian..”

Saya ikut bergerak. Ngoprek sana ngoprek sini. Iya, filenya ternyata ga ada.

“Kayaknya ga ke save sama gua.”

Sial lagi. Saya menarik nafas panjang. Abid memutuskan untuk kembali ke ruhim sendiri dan saya disuruh menunggu. Sementara Abid ke ruhim, saya ke jurusan sebentar karena ada urusan. Sumpah, itu udah lemeees banget. Baju udah basah sama kerigat. Hati udah mangkel banget pengen ngegebukin semut. -_-

Beberapa saat kemudian, saya dipersatukan lagi dengan Abid dan kami mulai pesimis selama perjalanan kami ke Geologi. Kami tahu sebenarnya siang ini ada kumpul departemen. Anak-anak yang lain udah pada nunggu. Tapi dana dari dekanat emang lagi lebih urgent.

Kami berdua diam. Tapi kami berdoa, semoga ini yang terakhir.

Pas nyampe di Geologi, ada orang lagi ngeprint. Saya dan Abid pun menunggu dengan sabar, diatas sini melayang-layaaang #payungteduhmania

Saya baru keingetan harus ngirim data praktikum ke Kiki dari dhuhur tadi. Maka dengan tingkat kepanikan setingkat akut, saya langsung ijin ke Abid buat ngirim dulu tugas ke Kiki. Abid mengiyakan. Saya melesat ke gazebo MIPA dan begitu melihat Rara, saya langsung nembak dia. Boong deng.
Saya langsung memalak laptop dia.

“Penting, ra! Ini demi kelangsungan hidup seseorang!” kata saya hiperbola. 

Begitu saya mencoba mengakses gmail, loadingnya kronis banget. Dan akhirnya “the webpage is not available”. 

unpad-hotspot
No Internet Access

Wah, keparat sekali hari ini. Hahahaha

Saya tertawa miris. Inbox hape saya penuh oleh sms dari Kiki yang meminta pertanggung jawaban atas janji saya kepadanya. Hujan turun dengan deras, dan peluh saya pun mengucur deras.

“Dil, udah selese ngirimnya?” Abid datang.
“Belum. Loading broo.. udah ngeprintnya?”
“Hehehehe... ”
“Apaan heheheehe??”
“Gua lupa ngeprint surat elu dil.”

Kampret.

“Maap ya.. hehehe..” kata Abid cengangas cengenges. Saya diam. Yaudahlah yaa. Sekalian aja lu tendang gue Bid.
“Sini flash disknya, urang ngeprint lagi. Surat kamu banyak salah ketiknya tuh.”
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Ulaaalaaa..
“Yok ngeprint.” Ajak saya.

Saya dan Abid pun melangkah dengan gontai ke Geologi, dan semakin gontai ketika melihat untaian panjang manusia yang sudah menenteng flash disknya masing-masing buat NGEPRINT JUGA KAYAK KITA!

“Bid, aku optimis Pak Dhar pasti udah pulang. Besok aja yuk? Daripada tanganku ini ngebacok orang saking senengnya. Hahahaha..” kata saya masih sempet ngelindur. Pak Dhar adalah pembina HIFI.
“Iya, besok aja dil.” Abid memandang saya dengan wajah sayu yang menyedihkan. Masih ada hari esok Bid, setiap hari adalah kesempatan kedua.

Tahun ini HIFI memiliki 54 buah proker yang memperoleh dana dari dekanat. Akan ada 52 proker lainnya yang berkesempatan untuk mengalami chaos seperti kami ini. Dana dari dekanat, adalah dana rintisan yang dapat memberi pengaruh terhadap proker yang kami laksanakan. Tahap selanjutnya yang harus saya dan Abid lewati setelah berhasil ngeprint surat permohonan dana yang baik dan benar adalah meminta tanda tangan Pak Dhar – dan pastinya beliau akan memeriksa proposal kami. Bisa jadi beliau menolak memberi tanda tangan ketika ternyata masih ada kesalahan. Dan mungkin, si Peminta tanda tangan akan menarik nafas panjang. Setelah memperoleh tanda tangan Pak Dhar, selanjutnya PJ nyamperin ke dekanat dan memasukkan proposal ke Sub kemahasiswaan. Nantinya proposal kita di tinjau dulu apakah judul kegiatan dan anggaran dananya serupa dengan RADP himpunan yang diserahkan ke dekanat. kalau belum sesuai, walaupun satu huruf pun, SATU HURUF pun! Proposal akan dikembalikan. Kalau sudah sesuai, proposal berarti lolos masuk ke dekanat dan tugas kita selanjutnya adalah follow up terus ke dekanat mengenai waktu turunnya dana proker yang bersangkutan.

Jalur birokrasinya emang cukup rumit. Dan ini adalah proses yang harus kami lalui, demi memperoleh lembaran-lembaran merah itu, yang bergambar Bung Karno dan Bung Hatta.        
Saya dan Abid pun berjalan kembali ke ruhim, kembali untuk memenuhi kewajiban kami  dalam kumpul departemen. Saya mencoba merenungkan kegilaan kami hari ini. Chaosnya kami hari ini, KSR luar biasa kami di hari ini. Target semula, proposal sudah masuk ke dekanat sebelum jam 2, ternyata tidak tercapai. Tapi, entah kenapa..

SAYA MERASA BAHAGIA.

Tidak perlu jalan-jalan ke Venecia, tidak perlu belanja di Dolce and Gabbana, tidak perlu keluar masuk Jatinangor Town Square untuk sekedar cari kesenangan. Dengan berkeringat begini pun, saya ternyata  merasa bahagia. Bahagia itu ada di hati. Bukan di tempat lain.

Dan saya sadar sepenuhnya bahwa ada alasan utama saya dan kawan-kawan pengurus lain mau melakukan ini. Ternyata karena HIFI yang begitu hidup. Iya, hidup di hati kami.